Picture from google.com
Beberapa orang pernah mengalami sleep paralysis atau dalam bahasa awam sering disebut "ketindihan". Wikipedia menyebutkan bahwa Sleep paralysis atau kelumpuhan tidur merujuk pada keadaan ketidakmampuan bergerak ketika sedang tidur ataupun ketika bangun tidur. Seseorang yang mengalami kelumpuhan tidur biasanya akan mengalami masalah untuk menggerakkan anggota badan, tidak bisa mengeluarkan suara dan sebagainya. Kelumpuhan tidur biasanya juga disertai dengan halusinasi seram.
Mitos yang beredar pada masyarakat jawa terutama, menyebutkan bahwa ketindihan merupakan saat dimana tidur anda diganggu oleh makhluk gaib berupa jin atau setan yang menaiki tubuh anda sehingga nafas anda terasa sesak dan anda tidak mampu berbicara. Tak jarang orang yang mengalami kelindihan seolah melihat makhluk gaib tersebut dengan bentuk yang menyeramkan. Namun apakah sebenarnya yang terjadi pada saat anda kelindihan?
Terjadinya kelumpuhan tidur belum diidentifikasi secara konkret, namun ada beberapa teori mengenai apa yang menyebabkan seseorang bisa mengalami kelumpuhan tidur. Goldstein, K. (2011) dalam "Parasomnias" memiliki pemahaman bahwa kelumpuhan tidur adalah gangguan tidur yang disebabkan oleh tidak sejalannya fase REM dan bangun tidur, dengan kata lain, otak masih dalam kondisi tidur tetapi tubuh ingin bangun, sehingga tubuh tidak bisa digerakkan. Pada studi polisomnografi ditemukan bahwa seseorang yang mengalami kelumpuhan tidur memiliki masa tidur REM yang lebih pendek dari biasanya. Studi ini juga menyatakan bahwa pola tidur yang tidak teratur juga dapat memicu terjadinya kelumpuhan tidur, karena terganggunya fase REM biasanya terjadi saat pola tidur seseorang itu terganggu.
Secara normal, seseorang yang tidur akan melewati beberapa fase. Istilah awam dapat dikatakan tidur ringan hingga tidur dalam. Namun dalam ilmu fisiologi, tidur dibagi berdasarkan gelombang otak yang dihasilkan saat tertidur, sehingga terdapat 2 fase. Masing masing fase memiliki beberapa tahapan. Fase pertama yaitu fase nREM yang memiliki 3 tahapan yaitu tahap tidur paling ringan (keadaan setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam dan tahap tidur paling dalam. Fase selanjutnya yaitu fase REM. Pada fase REM inilah mimpi dapat terjadi. Siklus tersebut berulang sekitar 3 hingga 4 kali saat tidur malam.
Terdapat suatu teori yang menjelaskan terjadinya sleep paralysis ini. Disebutkan bahwa fase REM dan keadaan bangun tidur seharusnya memiliki regulasi yang berkesinambungan, namun apabila fase REM ini tidak sejalan dengan keadaan untuk segera bangun tidur, maka akan terjadi kelumpuhan tidur ini. Terganggunya fase REM ini bisa karena beberapa hal, misalnya kelelahan. Saat kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak dapat mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Dari keadaan sadar kemudian masuk ke tahap tidur paling ringan berjalan normal, namun kemudian tahapan langsung melompat ke fase REM tanpa melewati 2 fase nREM sebelumnya. Oleh sebab itu, ketika otak tiba-tiba terbangun dari tahap REM, tubuhnya belum terbangun dari tidurnya, di sinilah kelumpuhan tidur terjadi. Individu merasa sangat sadar, tetapi tubuhnya tak bisa bergerak. Ditambah lagi dengan adanya halusinasi munculnya sosok lain yang sebenarnya merupakan karakteristik dari mimpi yang mungkin sedang dialaminya. Namun terdapat proses yang belum dapat dipahami dari teori ini karena belum ada penjelasan secara fisiologis mengenai terjadinya kelumpuhan sementara saat orang tersebut bangun.
Pendapat lain menyebutkan bahwa sleep paralysis sebenarnya adalah keadaan disaat kita merasa terbangun dari tidur namun sebenarnya kita masih tidur, sehingga kita hanya bangun dalam mimpi. Hal ini menjadi masuk akal karena disaat mimpi terjadi di fase REM, kondisi tonus otot sedang istirahat dalam fase ini sehingga tubuh tak dapat bergerak sehingga seolah-olah tubuh lumpuh. Sensasi tak dapat berbicara dan kesulitan bernafas terjadi karena lidah melipat ke belakang saat tidur, sehingga jalan nafas dan bicara terhambat. Sementara adanya halusinasi mengenai sosok yang menyeramkan merupakan bagian dari mimpi yang dipengaruhi oleh emosi, sosial budaya dan pengalaman hidup. Itulah sebabnya halusinasi tersebut tampak sangat nyata dan dapat sesuai dengan mitos atau mitologi setempat. Teori kedua ini tampak lebih masuk akal dan dapat diterima.
Kesimpulanya, peristiwa ketindihan atau kelumpuhan tidur atau sleep paralysis merupakan suatu gangguan tidur yang disebabkan oleh terganggunya fase tidur. Hal ini tidak berhubungan dengan peristiwa gaib ataupun mitos menyeramkan lainya. Jadi ketika anda mengalami peristiwa ini yang harus anda lakukan adalah cari anggota tubuh yang bisa digerakkan (jari kaki, jari tangan, atau lidah) dan gerakkan terus menerus untuk memaksa tubuh agar sepenuhnya bangun dari tidur. Cara lain yaitu cobalah untuk bernapas panjang dan dalam agar bisa lepas dari sleep paralysis. Tetap tenang dan bayangkan diri Anda bisa bergerak bebas. Beberapa orang bahkan dengan sengaja memancing sleep paralysis agar bisa merasakan sensasi bergerak bebas dalam mimpi. Kini anda tidak perlu takut lagi untuk kembali tidur setelah mengalami sleep paralysis.
